Top Tube; batang penghubung Head Tube dengan bagian atas dari Seat Tube.
Down Tube; batang penghubung Head Tube dengan Bottom Bracket.
Seat Tube; batang penyangga Seat Post yang terpasang antara Top Tube dan Bottom Bracket.
Seat Stay; batang rangka yang mendukung roda belakang dan terhubung dengan bagian atas seat tube.
Chainstays: batang rangka yang menghubungkan bottom bracket dengan dudukan tempat terpasangnya roda belakang (rear dropout = anting). Pada sepeda full-suspension yang tidak memakai Seat Stay maka batang ini disebut juga dengan istilah swing-arm.
DRIVE TRAIN
Chainring/ Chainwheel; piringan logam bergeririgi disekelilingnya (teeth) sebagai dudukan rantai, terletak dibagian tengah sepeda. Biasanya ada tiga jenis, yakni; single crank (Downhill), double crank (All Mountain atau Freeride) dan triple crank (XC).
Crankarms; lengan ayun yang satu ujungnya terhubung dengan Bottom Bracket dan ujung lainnya menjadi tempat dipasangnya Pedal Pengayuh.
Crankset; terdiri dari chainring, crank arms dan bottom brackets.
Bottom Bracket; mekanisme penghubung crank dengan rangka sepeda. Freewheel; seperangkat gigi (cassette/ cogs) belakang yang dilengkapi dengan mekanisme putaran idle yang mampu membuat roda tetap berputar sekalipun sepeda tidak dikayuh.
Chain; adalah rantai yang menghubungkan Chainring dan Cassette dan bertugas menyalurkan daya dari kayuhan pedal ke roda belakang. Mengingat peranannya yang sangat vital, merawat rantai dengan membersihkan dan melumasi secara rutin adalah sangat bijaksana.
Front & Rear Derailleur; adalah perangkat mekanis yang berfungsi memindahkan rantai dari berbagai posisi cassette (via rear derailleur) atau chainrings (via front derailleur). Komponen ini sangatlah penting, khususnya rear derailleur, sehingga perawatan berkala sangatlah diperlukan.
Pedal; platform atau pijakan kaki yang terhubung langsung ke Crank / Bottom Bracket.
Gear Shifter; adalah mekanisme pengatur yang menggerakan derailleur, terletak dikiri (rear-derailleur) dan kanan (front-derailleur) batang pengemudi (handle bar). Shifter ini dibagi dalam tiga jenis berdasarkan metode penggeraknya, yakni tipe Push/Trigger Shifter, Push-push Buttons, dan Twist Shifter (Revoshift atau Gripshift).
Tipe pertama digerakan dengan menggunakan jempol untuk menekan dan telunjuk untuk menarik tombol. Tipe kedua hanya menggunakan jempol untuk menekan dua tombol berbeda ketika hendak memindahkan gigi. Sedangkan tipe shifter ketiga dilakukan dengan memuntir sebagian dari handle grip untuk merubah posisi gigi.
BRAKE SYSTEM
Brake Lever; adalah lengan pengungkit yang berfungsi untuk melakukan pengereman.
Brake System; umumnya terbagi dalam dua kategori, yaitu Rim-mounted Brakes dan Hub-mounted Brakes.
Jenis pertama biasa dikenal dengan V-brake, Cantilever dan Calliper system yang bekerja dengan cara menjepit Rim (velg). Keuntungan dari Rim-brakes karena bobotnya yang ringan namun kurang optimum pada saat rim dalam kondisi basah atau tertutup lumpur.
Jenis kedua, biasanya menggunakan teknologi Drum atau Disc. Khusus jenis Disc-brake yang saat ini cukup popular dan affordable serta sangat lazim digunakan pada sepeda gunung, karena performanya yang optimum hampir disetiap kondisi.
Hydraulic Brakes; kebanyakan brake-systems yang ada dioperasikan menggunakan kabel baja yang ditarik menggunakan Brake Lever. Sedangkan hydraulic brakes bekerja dengan sistem fluida mirip seperti yang digunakan oleh mobil, dan pengoperasiannya lebih ringan, namun membutuhkan keahlian tersendiri dalam merawatnya. Sistem ini banyak diterapkan pada disc-brake system meskipun juga tersedia untuk Cantilever System.
Disc Brake; sistem rem yang bekerja menggunakan piringan baja yang dipasang pada Hub System.
COCKPIT/ STEERING SYSTEM
Front Shock; suspensi depan yang berfungsi untuk meredam getaran dari kondisi jalanan offroad atau bergelombang sehingga dapat meningkatkan secara significant pengendalian dan kenyamanan.
Handle Bar; batang horizontal yang berfungsi sebagai kemudi dan terpasang pada Stem yang kedua ujungnya terpasang handgrip, brake levers, dan shifters.
Handle Grip; karet yang berfungsi untuk mempermudah pegangan dan menghindari slip pada handle bar, sekaligus membantu meredam getaran yang diakibatkan permukaan jalan.
Stem; batang penghubung handle bar dengan head tube atau steering tube, dengan panjang dan sudut yang bervariasi untuk disesuaikan dengan posisi pengendara.
Head Set; mekanisme berputar yang dipasangkan pada Head Tube untuk menghubungkan Fork dan Stem.
Head Spacer; ring metal yang berfungsi untuk mengatur ketinggian posisi Stem.
Bar-end; sepasang “tanduk” yang dipasang diposisi paling ujung handle bar yang sering dimanfaatkan ketika dijalanan menanjak, juga sebagai alternatif posisi pegangan tangan untuk menghindari keletihan, serta sebagai penahan sepeda pada saat dibalik sehingga tidak merusak cycle computer, head light, brake lever atau shifter.
WHEEL SYSTEM
Alloy Wheels; semua sepeda berkualitas sudah menggunakan rim berbahan aluminium, karena bobotnya yang ringan dan tidak berkarat, disamping kemampuan rem-nya juga lebih baik.
Front & Rear Hub; bagian tengah dari sebuah roda yang terdapat mekanisme berputar dengan bearing didalamnya dimana spokes dipasang.
Bearings; adalah bola baja kecil, biasa disebut pelor/ gotri untuk mengurangi gesekan dua logam bergerak, terdapat dalam Hub, bottom bracket, Head set dan Pivot.
Spokes; kawat besi yang menghubungkan Hub dan Rim, dengan pengatur tegangan menggunakan nipple yang terdapat di Rim. Ada dua jenis bahan yang biasa digunakan: (1) Stainless Steel, yang terkenal cukup kuat dan tidak berkarat, (2) Double-butted, biasanya agak mengecil dibagian tengahnya tanpa mempengaruhi kekuatan, namun bobotnya lebih ringan.
Quick Release; batang pengunci roda dengan rangka sepeda, dan harus terbuat dari metal dengan sistem kerja yang aman dan terpercaya.
Tyre; karet ban yang terbuat dari bahan dan bidang kontak yang didisain secara khusus untuk mendapatkan traksi dan daya tahan yang diinginkan.
Inner Tube; karet tipis berbentuk balon yang berfungsi sebagai ban dalam.
SADDLE PARTS
Saddle; sadel atau bantalan duduk ketika mengayuh sepeda sehingga bokong tetap terasa nyaman disamping untuk mengurangi rasa lelah dibagian bawah kita. Semakin banyaknya pesepeda wanita, telah membuat para produsen sadel sepeda memproduksi sadel khusus wanita.
Seat Post; tiang penyangga sadel yang dimasukan ke seat tube.
Seat Clamp; sama dengan quick release, berfungsi untuk mengunci seatpost pada seat tube ketika sudah dicapai ketinggian sadel yang ideal.
Memilih sepeda gunung yang sesuai seringkali menjadi hal yang membingungkan khususnya bagi para pemula. Tips mudah untuk mengatasi hal ini adalah dengan mengenal terlebih dahulu secara umum jenis-jenis sepeda gunung yang ada serta peruntukannya [lihat posting awal di blog ini]. Kemudian diskusikan dengan teman atau pesepeda gunung yang berpengalaman atau bergabung dalam komunitas maya (milis).
Pertanyaan klasik bagi para pemula biasanya berkisar pada: + Apakah saya memulai dengan sepeda hardtail atau sepeda full-suspension? + Apakah saya beli yang full-bike atau dirakit dengan frame dan komponen pilihan sendiri?
Untuk memilih sepeda yang tepat, tentukan dulu penggunaannya untuk kategori apa. Jangan sampai menyiapkan setting sepeda XC tapi dipakai untuk Freeride atau DH, bisa runyam hasilnya, demikian juga sebaliknya.
Tapi kalau anda penggemar XC dan sekali-kali bermain AM/XM/trailbike, ada beberapa sepeda yang sudah dirancang seperti itu. Artinya, spesifikasi teknisnya untuk AM/XM/trailbike, tapi karena bobotnya ringan dan geometri-nya dinamis, maka masih cukup comfortable untuk XC.
Apapun kategori penggunaan sepeda gunung (MTB) anda, mau XC, AM, FR, atau DH; anda selalu bisa memulainya dengan full-suspension. Memang sebagian besar saran yang diterima oleh pemula adalah, “mulailah dengan hardtail”. Dengan alasan antara lain untuk berlatih dulu dengan sepeda yang less comfortable dan better pedalling efficiency.
Namun bagi mereka yang mulai (lagi) bersepeda diatas usia 30+ sangat dianjurkan untuk mengutamakan comfort riding untuk mengurangi body fatique. Saat ini tersedia sepeda XC full-suspension dengan performa (efficiency) yang sama atau mendekati hardtail, seperti misalnya sepeda yang menggunakan brain shock atau Non Resonance System dibagian belakang.
Namun semua itu kembali lagi pada bujet tersedia dan seberapa serius kita akan melakukan olahraga atau hobi ini. Satu hal yang pasti, kalau tujuan kita bersepeda bukan untuk kompetisi dan lebih mementingkan unsur olahraga, kenyamanan dan kesehatan; sekali lagi full-suspension bukan pilihan yang salah. Sekarang ini entry level full-suspension sudah semakin terjangkau apalagi kalau pandai-pandai mencari used bikenya
Tetapi jika anda memilih HARDTAIL, jelas bukan pula pilihan yang keliru, banyak koq yang memulai dan masih tetap setia dengan hardtail. Akhirnya semuanya kembali pada personal preferences dan tujuan.
LALU, bagaimana dengan pilihan merakit sepeda atau beli yang sudah full-bike? Jika bersepeda buat anda sekedar untuk berolah-raga atau sarana transportasi alternatif, maka membeli sepeda full-bike akan memudahkan pilihan anda. Namun kalau bersepeda juga merupakan bagian dari hobby atau life-style anda, maka sepeda yang dirakit dengan komponen pilihan sendiri jelas lebih memuaskan.
Semua jenis sepeda gunung masa kini telah menerapkan sistem suspensi pada roda depannya (fork suspension), dan beberapa diantaranya bahkan menerapkan sistem suspensi di roda belakangnya (dual suspension = full suspension). Sepeda gunung pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori sesuai dengan peruntukan medan yang dilaluinya, diantaranya;
Cross-Country Bike Beratnya relatif paling ringan dibandingkan jenis sepeda gunung lainnya, berkisar antara 8 hingga 12 kg. Sepeda gunung jenis ini didisain untuk mendapatkan efisiensi yang optimal pada saat mengayuh dan menanjak, karenanya banyak juga digunakan untuk keperluan XC-race. Rancang bangunnya masih didominasi oleh jenis hardtail (tanpa sistem suspensi belakang), sekalipun dalam 2-3 tahun terakhir ini jenis full-suspension dengan travel suspensi belakang 3-4 inches semakin banyak mengisi pasar.
Penggunaan full-suspension pada sepeda gunung jenis cross-country banyak dipicu oleh teknologi baru dalam pembuatan bahan material berbobot ringan serta geometri suspensi belakang yang mampu mengeliminasi efek negatif dari bobbing (tendangan balik pada saat suspensi mengayun). Hanya saja sepeda gunung jenis ini tidak selayaknya dipergunakan secara extreme, kecuali sebatas lompatan kecil (bunny hop) dan kondisi medan dengan halangan teknikal yang ringan.
All Mountain / Trailbike Saat ini merupakan pilihan yang cukup populer bagi para penggemar sepeda gunung petualangan bebas dan popularitasnya sedang menanjak pesat. Jarak main suspensi biasanya berkisar antara 4 hingga 5 inches bahkan beberapa sudah ada yang menerapkan 6 inches, sekalipun kategori ini masih menyisakan beberapa sepeda gunung jenis hardtail. Sepeda gunung jenis all-mountain dirancang untuk mampu melintasi medan berbatuan, tanah pegunungan maupun batu lepas dengan nyaman pada kecepatan relatif tinggi dibandingkan sepeda jenis cross-country, bahkan mampu melakukan lompatan (drop off) hingga 2 meter. Berat keseluruhan sepeda berkisar antara 11-15 kg, dengan komponen yang yang relatif ringan namun tetap kuat.
Freeride Pada dasarnya sepeda gunung jenis ini tidak berbeda banyak dengan sepeda gunung jenis All-mountain, kecuali beberapa komponen-nya dibuat lebih kuat dan berkarakteristik sepeda gaya bebas. Seperti misalnya, suspensi depan yang lebih kekar dan minimal dilengkapi suspensi double crown (batang penahan stanchion), serta menggunakan dual cranks pada pengayuhnya. Sepeda gunung ini biasanya dirancang untuk dapat bertahan ketika melakukan lompatan-lompatan yang yang cukup tinggi.
Dirt Jump / Urban Bike Penggemar sepeda gunung ini awalnya adalah kawula muda perkotaan yang menggunakan sepeda gunung untuk segalanya. Selain sebagai alat transportasi, menikung dengan kecepatan tinggi, juga digunakan untuk melakukan lompatan-lompatan tinggi bahkan sangat extreme. Rangka sepedanya (frame) terbuat dari bahan yang sangat kuat dengan disain yang kokoh, serta ruang ban yang cukup besar untuk penggunaan ban yang ekstra lebar dan besar. Disamping itu frame bagian atasnya (top tube) dibuat serendah mungkin untuk kemudahan pengendalian. Berat sepeda gunung ini mencapai antara 13-18 kg dengan kualitas material yang lebih kuat, sehingga membuat jenis sepeda ini relatif lebih mahal.
Downhill Sepeda gunung jenis ini tujuan utamanya adalah menaklukan turunan dengan cepat, aman dan nyaman; yang pada awalnya banyak dilakukan pada area turunan bermain ski disaat tidak musim salju. Untuk itu dibutuhkan suspensi yang lebih panjang jarak mainnya, serta super-sensitif terhadap medan yang dilintasinya. Geometri dari rangkanya (frame) didisain dengan titik gravitasi yang rendah dan mampu menikung dengan stabil sekalipun pada kecepatan tinggi. Kemampuan melakukan pengereman juga merupakan faktor yang penting bagi sepeda jenis ini, karenanya penggunaan rem piringan (disc brake) berukuran besar sangat direkomendasikan. Komponen dan material sepeda ini dipilih yang kuat untuk menahan perlakuan yang “abnormal” dan ini menyebabkan bobot sepeda meningkat sehingga berkisar antara 15-20 kg.
==== source === kebetulan lagi pengen belajar tentang sepeda gunung kebetulan aja nemu artikel diatas dari site :http://blog.360.yahoo.com/blog-9cbnP7QicadCu.QlaHDu8n4-?cq=1&p=9Read More.. | Baca Selengkapnya...
Bervariasi dan Menantang Kondisi alam di Indonesia sangat potensial untuk berkegiatan alam bebas. Salah satu potensi yang sangat menarik dikembangkan adalah kegiatan arung jeram di sungai-sungai yang tersebar hampir di seluruh pelosok nusantara. Sungai-sungai itu mempunyai tingkat kesulitan yang bervariasi, dari tingkat kesulitan kelas I s/d V. Bahkan di beberapa sungai ada jeram yang unrunable alias tak bisa diarungi karena tingkat kesulitannya sangat tinggi dan berbahaya untuk diarungi. Berikut adalah uraian singkat mengenai sungai-sungai yang sudah pernah diarungi yang terletak di berbagai wilayah di Indonesia.
Sumatera Utara dan Aceh
1. Sungai Wampu Terletak di antara dua Kabupaten di Sumatera Utara, Karo dan Langkat. Di kabupaten Karo, hulu sungai ini dikenal dengan nama Lau Biang. Sedang di Langkat dikenal dengan nama sungai Wampu. Airnya yang jernih dan cukup deras, mengalir langsung dari hutan-hutan lebat Taman Nasional Gunung Leuser. Rute utama untuk berarung jeram biasanya dimulai dari desa Kaperas di Marike sampai dengan jembatan Bahorok di Kab. Langkat. Jarak tempuh kurang lebih sepanjang 22 km, waktu tempuh normal 4-5 jam. Tingkat kesulitan antara kelas II - III. Jika ingin rute lebih panjang lagi pengarungan dapat dimulai dari desa Rih Tengah, kab. Karo. Hanya saja perjalanan menuju ke desa ini cukup sulit, disamping harus melewati jalan off road selama 3 jam, harus dilanjutkan pula dengan trekking selama 3 jam. Tetapi jangan khawatir karena anda akan disuguhi pemandangan yang indah di titik awal pengarungan.
2. Sungai Alas Sungai ini terletak di dalam TN Gunung Leuser dan mengalir ke arah Aceh Selatan. Sungai ini termasuk sungai yang selalu diimpikan untuk diarungi oleh setiap maniak arung jeram. Tingkat kesulitan jeram-jeramnya antara III s/d IV. Ada beberapa trip yang bisa dipilih. Untuk perjalanan satu hari pengarungan dapat dimulai dari Serkil ke Ketambe atau Natam dekat Kutacane. Jika memang tertarik untuk trip panjang, pangarungan dapat dimulai dari Ketambe ke Gelombang, Aceh Selatan. Jalur ini adalah jalur ekspedisi yang cukup menegangkan sekaligus mengasyikkan, karena melintas hutan tropis selama tiga hari penuh. Di titik-titik perhentian telah disediakan fasilitas pondok-pondok wisata yang dapat digunakan untuk bermalam.
3. Sungai Tripa Sungai ini juga terdapat di TN Gunung Leuser. Titik awal pengarungan dimulai dari desa Pasir dan berakhir di desa Tongra, Terangun Aceh Tenggara. Muara sungai Tripa berada di Aceh Barat dan mengalir ke Samudera Hindia. Untuk mencapai desa Pasir dapat melalui Blangkejeren melalui jalan-jalan berlumpur. Tingkat kesulitan berkisar III s/d IV.
4. Sungai Asahan Sungai ini mengalir dari mulut Danau Toba melewati Porsea Kab. Asahan dan berakhir di Teluk Nibung, Selat Malaka. Jeram sungai asahan terkenal liar dan deras. Topografi daerah ini bergelombang membuat jeram-jeram di sungai asahan ini menjadi sangat variatif, berombak tinggi, dan panjang. Titik awal dapat dimulai dari Sampuran Harimau yang terletak di desa Tangga di Kab. Asahan dan titik akhirnya di desa Bandar Pulau. Tingkat kesulitan jeramnya bervariasi antara III s/d V. Jeram terbesar dan terganas adalah rabbit hole yang mempunyai grade V.
5. Sungai Batang Toru Sungai Batang Toru terletak di wilayah Tapanuli Selatan berhulu di Danau Toba. Mengalir ke arah Barat daya dan bermuara di Samudera Hindia. Sungai ini dikenal juga dengan nama Aek Sigeon oleh orang-orang Tarutung sampai ke hulu, sedang orang di sekitar mura Batang Toru ini menyebutnya dengan nama Aek Sarula. Panjang sungai sekitar 125 km.
Lampung
Way Semangka Sungai Semangka atau Way Semangka terletak di pingir perbatasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung. Lintasan yang asyik untuk diarungi adalah sepanjang 23 km dengan waktu tempuh antara 5 s/d 7 jam. Kelas jeram berkisar antara kelas II – III+. Pemandangan di sisi sungai sangat menarik terutama di separuh sungai bagian atas. Start dimulai dari desa Tugu Ratu dan finish di Dam Talang Asahan. Untuk mencapai tempat start di Tugu Ratu memakan waktu sekitar 5-6 jam dari Tanjung Karang. Kondisi jalan pada dari Raja Basa, Kota Agung sangat buruk (Mei 2001), tetapi sangat cocok dan menantang untuk para penggemar offroad.
Jawa Barat
1. Sungai Citarik Sungai ini cukup terkenal di antara para penggemar pengarung jeram. Terdapat beberapa operator wisata arung jeram di sungai ini. Jeram-jeram di sungai Citarik mempunyai tingkat kesulitan III sampai IV. Kondisi airnya cukup jernih dan relatif stabil sepanjang tahun. Lintasan yang cukup asyik untuk diarungi sepanjang 17 km. Start dapat dimulai dari Parakan Telu desa Cigelong atau dari Pajagan, desa Cigelong. Sedang finish di desa Citangkolo, Cikidang atau di desa Cikadu, Pelabuhan Ratu. Total pengarungan sekitar 4 jam. Namun pada umumnya pengarungan dimulai dari Pajagan dan berakhir di desa Cikadu.
2. Sungai Cikandang Air sungai Cikandang berasal dari Gunung Cikuray dan Papandayan, terletak di wilayah kabupaten Garut. Sungai ini masih sangat asri dan jauh dari polusi karena jauh dari daerah permukiman. Air sungai Cikandang relatif stabil baik dimusim kemarau ataupun musim hujan. Jeram-jeramnya sungguh menantang karena mempunyai kelas III sampai IV. Titik awal pengarungan dapat dimulai dari kampung Sindang Ratu, desa Cihideung dan berakhir di pesisir pantai selatan di desa Cijayana. Lama pengarungan sekitar 4 jam, jarak tempuh sekitar 15 km.
3. Sungai Cikaso Hulu sungai Cikaso berada di daerah pegunungan di Sukabumi utara. Sedang muara sungai ini berada di pantai selatan di daerah Kecamatan Surade, Sukabumi Selatan. Panjang sungai yang sudah diarungi baru sekitar 24 km. Sungai ini mempunyai daya tarik tersendiri, karena di sepanjang aliran sungai banyak ditemui air terjun yang meluncur dari tebing-tebing sungai yang ditumbuhi lumut-lumut hijau. Jeram-jeramnya sangat menantang, dari kelas III s/d kelas VI. Lebar sungai Cikaso bervariasi antara 50 sampai 100 meter. Di jeram Sarongge yang terletak di kampung Cimampar, Cangkuang aliran sungai menyempit di antara tebing-tebing terjal, bahkan di salah satu bagian aliran sungai tertutup runtuhan batu breksi, sehingga tak dapat diarungi. Entry point dimulai dari jembatan Bojong Kecamatan Kalibunder dan finish di jembatan Cikaso kecamatan Tegal Buleud.
4. Sungai Palayangan Air sungai Palayangan berasal dari Situ Cileunca yang terletak di Pangalengan, Kabupaten Bandung yang terkenal dengan kesejukannya. Sungai Palayangan mempunyai gradien tinggi sehingga arus sungai cukup kencang. Lebar sungai antara 5-10 meter dengan kelokkan tajam. Airnya dingin, jernih dan bersih. Kelas jeram berkisar antara III – IV. Panjang lintasan sungai yang dapat diarungi adalah 4 km. Jeram paling menarik dengan gradient tinggi adalah jeram Kecapi. Pemandangan sangat indah , sungai ini terletak di lembah di antara hutan pinus dan perkebunan teh.
5. Sungai Cianten Sungai ini terletak di Kabupaten Bogor. Hulu sungai berada dari hutan-hutan di kawasan Taman Nasional Halimun. Sungai Cianten merupakan anak sungai Cisadane. Aliran air sungai cukup stabil, karena di atas lokasi start Batu Beulah merupakan Dam yang berfungsi untuk PLTA. Kelas sungai berkisar antara II+ - III. Kelas kesulitan dapat meningkat saat tinggi muka air naik. Panjang sungai yang dapat diarungi saat tinggi muka air bagus sekitar 13 km sampai di titik pertemuan dengan sungai Cisadane. Pada umumnya start dimulai dari Batu Beulah dan berakhir di Jembatan Leuwiliang.
6. Sungai Cisadane Untuk para pengarung jeram pemula, sungai Cisadane merupakan pilihan yang tepat untuk berarung jeram. Letaknya tak jauh dari kota Bogor. Aliran air berasal dari dari kawasan hutan-hutan di Gunung Salak. Panjang sungai yang asyik dan biasa diarungi adalah sepanjang 9 km dengan tingkat kesulitan sungai II+ - III. Waktu tempuh sekitar 2 jam. Titik awal dimulai dari jembatan Ciampea dan berakhir di kampung Pasir, sekitar satu jam pengarungan dari titik pertemuan sungai Cianten – Cisadane.
7. Sungai Cicatih Sungai Cicatih terletak di Kab. Sukabumi, sungai cukup lebar antara 25 s/d 100 meter. Entry point pertama adalah dari Dam PLTA Ubruk, sedang entry point ke dua dari desa Bojongkerta. Sedang finish di jembatan gantung Leuwilalai. Lama pengarungan sekitar 3 jam jika titik mulai dari DAM Ubruk, jika mulai dari Bojongkerta lama pengarungan sekitar 2 jam. Sungai Cicatih mempunyai jeram-jeram berkelas III s/d IV. Jeram terrbesar adalah jeram gigi yang mempunyai kelas IV. Saat debit air meningkat maka tingkat kesulitan akan naik. Pemandangan di sisi sungai sangat menarik.
Jawa Tengah
1. Sungai Progo Hulu sungai Progo berada di lembah diantara dua gunung, Sindoro dan Sumbing. Mengalir ke arah selatan, membelah dua propinsi, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Arusnya cukup deras dan sangat fluktuatif terutama pada musim hujan. Pada kondisi normal jeram-jeram di sungai ini sungguh menantang dan mempunyai tingkat kesulitan antara kelas II s/d V. Entry point dapat dilakukan dari beberapa tempat. Titik pertama adalah dari Taman Kyai Langgeng di Kota Magelang, titik kedua Jembatan Tempuran Kabupaten Magelang, titik ke tiga jembatan Borobudur, Mendut, titik ke empat jembatan Klangon. Titik akhir biasanya sampai di Dam Ancol, Kabupaten Sleman. Jarak total etape Kyai Langgeng, Magelang ke Dam Ancol, Yogyakarta sekitar 40 km. Etape paling menantang adalah antara jembatan Klangon dan Dam Ancol dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Setiap pengarung jeram harus waspada dengan hujan yang cukup deras, karena ketinggian air dapat secara tiba-tiba naik dan mengakibatkan banjir bandang.
2. Sungai Elo Anak sungai Progo yang berhulu di lereng barat gunung Merbabu. Airnya lebih jernih dibanding sungai Progo. Jeramnya bervariasi antara tingkat kesulitan II – III. Pemandangan di sisi kanan kiri sungai masih asri dan menarik. Pengarungan dimulai dari Jembatan Blondo, Magelang, dan berakhir di Mendut, atau di sekitar titik pertemuan antara Progo dan Elo. Lama pengarungan sekitar 2,5 jam dan jarak tempuh 8 km.
3. Sungai Serayu Terletak di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Panjang sungai yang biasa diarungi lebih dari 16 km. Sungai Serayu sangat mudah dijangkau karena terletak di pinggir jalan raya yang menghubungkan kota Wonosobo dan Banjarnegara, sehingga start awal dapat dimulai dari beberapa titik antara lain adalah dari jembatan di desa Blimbing, dan desa Tunggoro (Kab. Wonosobo), serta desa Prigi (Kab.)Banjarnegara, sedang finish berada di desa Singomerto (Kab. Banjarnegara). Jeram jeram di sungai ini mempunyai kelas antara II sampai IV.
Jawa Timur
Sungai Brantas Sungai Brantas cukup menarik untuk penggemar arung jeram. Jeram-jeramnya mempunyai kelas antara II - III. tetapi kalau air sungai sedang naik di beberapa jeram akan meningkat kesulitannya terutama di jeram yang dikenal dengan jeram Suud. Titik awal pengarungan biasanya dimulai dari Gang Sembilan Gadang sampai ke daerah Dam Blobo atau daerah Karang Duren, Malang. Pengarungan memakan waktu sekitar 3 jam.
Untuk Sementara itu dulu sungai-sungai yang biasa digunakan penggiat arung jeram di indonesia yang sebagian besar di daerah Jawa dan Sumatra. Untuk Sungai-sungai lainnya yang belum disebutan diatas terutama dikawasan indonesia bagian timur akan menyusul segera... (bey)
Dalam sejarah dunia pendakian nama Sir Edmund Hillary ibarat sebuah legenda yang tak pernah mati. Dia lah salah seorang manusia pertama yang menumbuhkan keniscayaan orang untuk mencapai atap dunia di Himalaya. Lahir pada tahun 1919 di Auckland Selandia Baru dan tumbuh dewasa juga di daerah tersebut, sejak muda Emund Hillary telah memilki ketertarikannya terhadap dunia pendakian gunung. Meskipun di negaranya ia bekerja tak lebih hanya sebagai tukang penjaga lebah madu namun cerita hidupnya kemudian membuktikan bahwa Edmund Hillary telah sukses dengan berbagai pendakian di Selandia Baru, pegunungan Alpen sampai akhirnya ia sampai juga di puncak Himalaya. Dan suatu hal yang sangat fantastis, di Himalaya, ia berhasil bertengger di 11 puncaknya yang berbeda dengan ketinggian rata-rata diatas 20 Ribu kaki!